BANGKAHEADLINE

Selalu Ada Cinta Untuk Haris

161
×

Selalu Ada Cinta Untuk Haris

Sebarkan artikel ini
Kesan dan pesan Ahmadi Sofyan alias Atok Kulop pada acara Pisah Sambut Penjabat Bupati Bangka di Graha Maras, Rabu (15/01) malam. (Foto: Romlan)

BANGKA – Penulis sekaligus tokoh masyarakat Bangka Belitung, Ahmadi Sofyan atau yang akrab disapa Atok Kulop, menyatakan tetap ada cinta untuk Penjabat Bupati Bangka yang lama, Muhammad Haris.

Pernyataan itu diungkapkan Atok Kulop saat menyampaikan kesan dan pesan pada acara Pisah Sambut Penjabat Bupati Bangka di Gedung Pertemuan Graha Maras, Rabu (15/01/2025) malam.

“Pertama, selama ini sudah banyak program Pj Bupati yang berjalan dengan baik. Kami lihat Kabupaten Bangka perlu perbaikan, Pak Haris adalah pilihan tepat ketika Kementerian Dalam Negeri menunjuk Pak Haris karena paham keuangan, dan Insyaa Allah Kabupaten Bangka semakin membaik,” ungkapnya.

Yang kedua, Atok Kulop melihat Muhammad Haris bisa memimpin di Kabupaten Bangka ini dengan cara yang cukup elegan. Walaupun banyak kritikan, namun harmoni antara legislatif dan yudikatif patut diapresiasi.

“Yang ketiga program Bujang Kampung. Terus terang ini menurut saya sangat menarik. Siapapun yang memimpin hari ini dan ke depan, program Bujang Kampung itu harus terus dilakukan. Kenapa? Karena di situ pelayanan langsung terhadap masyarakat dan kehendak kami sebagai masyarakat,” katanya.

Lanjut Atok Kulop, program Bujang Kampung itu baru tiga kali dilaksanakan, namun sudah banyak dirasakan (manfaatnya) oleh masyarakat.

“Kalau ini diteruskan oleh Pj Bupati yang baru, saya kira luar biasa. Sebagai rakyat kampung pak, kami membutuhkan pemerintah yang melayani secara langsung. Membawa OPD, membawa pihak terkait untuk menyelesaikan langsung masalah,” tuturnya.

Lebih lanjut Atok Kulop mengatakan, dulu ada program Bupati Mendengar jamannya Yusroni Yazid menjabat Bupati Bangka, namun OPD dan pihak terkait belum dibawa seperti program Bujang Kampung.

“Apapun namanya, saya ingin program seperti ini ada di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.

Banyak yang Kededep

Atok Kulop juga mengucapkan selamat datang di Bumi Sepintu Sedulang kepada Isnaini, Penjabat Bupati Bangka yang baru dilantik. Ia pun membeberkan kenapa namanya Sepintu Sedulang di Bumi Serumpun Sebalai?

“Karena sepintu artinya satu pintu atau setiap pintu, sedulang kita membawa dulang untuk makan bersama, bukan makan surang (sendiri), itu maknanya. Karena dulang yang ditutup tudung saji itu diisi dengan berbagai makanan. Belum pernah kita melihat orang makan sedulang sendiri, pasti minimal 2 atau 3 orang. Makanya nganggung itu, dulang itu makan bersama bukan makan surang,” bebernya.

Atok Kulop menuturkan, dengan latar belakang Isnaini banyak orang yang kededep (deg-degan/ketar-ketir/khawatir/gelisah), lantaran pengganti Muhammad Haris sebagai Penjabat Bupati Bangka itu lama bertugas di Komisi Pemberantasan Korupsi.

“Banyak yang kededep, orang KPK ini. Saya cek ke teman di KPK, ternyata itu memang sudah pilihannya, bahwa perlu perbaikan di Kabupaten Bangka. Kalau ada OTT juga tidak apa-apa Pak. Tapi sudah sering di sini OTT, Operasi Tailing TI,” selorohnya.

Masih kata Atok Kulop, orang Bangka siap menerima siapapun yang ingin membangun Bangka. Ia ingin Isnaini bisa jadi pemimpin yang bisa merangkul, bukan memukul, mengajak bukan mengejek, dan menggunakan argumen bukan sentimen.

“Kalau ada yang salah dari pemerintah kita mohon ditegur, disapa, diperbaiki. Walaupun saya bukan bagian dari pemerintah, tapi saya juga tidak ingin pemerintah kita nanti namanya jelek di luar. Khawatir jelas sebagai warga Kabupaten Bangka, ini dilihat dari latar belakang Bapak saya jadi kededep juga,” katanya.

“Kondisi Negeri Sepintu Sedulang hari ini Insyaa Allah masyarakat bisa menerima, yang penting Bapak bisa ngopi bareng kalau ada masalah, bisa duduk bareng dengan masyarakat, dan yang penting bisa makan lempah kuning. Lempah kuning yang ada di Bangka ini, setiap warung pasti paling enak. Karena hanya ada 2 rasa, enak sama enak banget, cuma itu,” katanya.

“Jadi kalau ada waktu nanti makan lempah kuning ngobrol dengan masyarakat, pasti masyarakat sangat menerima,” imbuhnya.

Menurut Atok Kulop, potensi konflik di Bangka ada 2, pertama potensi konflik pada pertimahan, kemudian potensi konflik yang kedua adalah perusahaan perkebunan sawit dengan masyarakat.

“Itu sampai hari ini belum bisa terselesaikan dengan baik dan itu saya yakin pasti Bapak hadapi,” demikian Atok Kulop. (Romlan)