Harga Ayam Potong di Pasar Muntok, Sudah Naik Tak Bisa Turun

oleh -18 Dilihat
Ayam potong di Pasar Tradisional Muntok, walaupun mahal tapi laris manis, Senin ( 24/1 ).

BANGKA BARAT — Setelah naik ke angka empat puluh ribuan rupiah saat Natal dan Tahun Baru lalu, harga ayam potong di Pasar Tradisional, Kecamatan Muntok tidak kunjung turun. Bahkan pantauan hari ini, Senin ( 24/1 ), harganya sudah berada di angka Rp.42.000 per kilogram.

Menurut Arman, salah seorang pedagang ayam potong di Pasar Tradisional, Kecamatan Muntok, mereka kerap menemui kesulitan di sisi modal, sebab berapa pun harga yang dijual, mereka tetap hanya mengambil untung Rp.3.000 saja, sedangkan modal yang dibutuhkan cukup besar.

” Kalau bisa modal mau murah, kalau modal mahal tetap aja untung tetap Rp. 3.000, jadi rugi di modalnya aja yang besar, kalau bisa ya enak modalnya kecil,” ujar Arman, didampingi istrinya, Senin ( 24/1 ).

Menurut Arman, saat ini dirinya harus merogoh modal Rp. 39.000 untuk mendapatkan ayam di distributor, sehingga terpaksa menjualnya seharga Rp. 42.000 per kilogram.

Meskipun dianggap mahal, namun ayam potong terbilang cukup laris. Menurut dia, para pembeli saat harga tinggi seperti sekarang ini tidak bertele – tele dan cenderung lebih cepat saat berbelanja.

” Enaknya kalau ayam mahal ini orang nggak banyak tingkah belinya, kalau murah banyak tingkah. Kalau ayam mahal nggak neko-neko, nanya langsung bayar. Beda kalau murah mau keliling pasar dulu nyari harga paling murah,” tukasnya.

Berbeda dengan Muntok, harga ayam di Pasar Kecamatan Kelapa justru mengalami penurunan, dari Rp. 45.000 ke angka Rp. 37.000.

Menurut pedagang ayam di Pasar Kelapa, Hendra, salah satu pemicunya karena modal yang dibutuhkan sudah turun ke angka Rp. 28.000.

” Harga jual kalau modal itu kita jual di harga Rp. 37.000, kalau bersihnya. Ini mulai turun, tapi kalau dihitung standar biasanya masih tinggi,” kata Hendra.

Faktor lain yang membuat harga turun menurut dia, stok ayam potong di tingkat pedagang sudah relatif banyak. Bahkan sekarang mereka bisa memesan 300 hingga 400 ekor, padahal sebelumnya jumlah pesanan diatur dan dibagi – bagi oleh pihak broker.

” Kemarin kita diatur dibagi-bagi broker jumlah ayamnya. Stok sekarang kita bisa pesan 300-400 ayam. Kalau seminggu kemarin, kita pesen 300 cuma dikasih 100. Prediksi ini akan turun terus, tapi kalau mau puasa nanti trend-nya naik menghadapi ruwahan,” cetus Hendra.

Di lain pihak, Kabid Perdagangan, Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Kabupaten Bangka Barat, Miwani mengatakan, memang saat ini harga ayam potong di Pasar Muntok Rp. 42.000. Menurut dia ada kemungkinan bisa turun lagi, namun kapan waktunya tidak dapat diprediksi.

” Sekarang di Pasar Muntok Rp. 42.000, kalau turun kemungkinan bisa, tapi kapan waktunya kita nggak tahu. Puasa nanti pasti naik, mungkin bisa naik. Normalnya di Muntok ini Rp. 30.000, sekarang naik terus,” ujar Miwani di ruang kerjanya.

Dikatakannya, kenaikan harga ayam potong tidak hanya terjadi di Bangka Barat saja, tapi sudah menyeluruh hingga nasional. Sebab, bila harga ayam di Pulau Bangka mahal, perusahaan lokal pasti mencari keluar. Hal itu menyebabkan harga di tingkat pedagang menjadi tinggi.

” Kan tidak ada larangan, otomatis di Bangka di tingkat pedagang pasti naik, itulah yang terjadi sekarang kalau masalah ayam,” ujar Miwani.

Disamping itu lanjut dia, mata rantai distribusi ayam potong di Muntok cukup panjang. Jalurnya dari broker disalurkan ke pemotong, setelah itu baru ke pedagang. Para pedagang tidak berani mengambil dalam jumlah banyak karena takut rugi

” Kalau pedagang dia nggak mampu ngambil banyak, jadi broker ini baru ke pemotong, kalau pemotong baru ke pedagang. Jadi mata rantai itu panjang, nggak dari perusahaan ke pedagang. Jadi memang sistem pedagang seperti itu, alasan pedagang mereka tidak punya mobil,” katanya. ( SK )