Perahu Kades Bakit Ditabrak Preman

oleh
Audiensi masyarakat nelayan Desa Bakit dan sekitarnya dengan para penambang Teluk Kelabat Dalam di OR II Setda Bangka Barat, Selasa ( 8/7 ).

BANGKA BARAT — Penjabat Kades Bakit, Kecamatan Parittiga, Rusli, memaparkan situasi terkini di perairan Teluk Kelabat Dalam yang masih menjadi sumber polemik para penambang dan masyarakat nelayan.

Memang pada bulan Desember tahun lalu, kata Rusli, di perairan Tanjung Ru sudah kosong dari aktivitas penambangan setelah penertiban. Namun di wilayah Bangka Induk, aktivitas tersebut tetap berlanjut, dan pada bulan puasa ( sekitar bulan Mei ) lalu sudah merembet ke perairan Desa Bakit.

” Yang menjadi permasalahan di wilayah seberang di Bangka Induk itu aktivitas jalan terus. Lama – lama kegiatan itu pada bulan puasa kemarin merembet lagi ke wilayah Bakit. Jadi sekarang malah lebih terang – terangan,” tukas Rusli saat audiensi nelayan dan penambang bersama Forkopimda di Ruang Rapat OR II Setda Bangka Barat, Selasa ( 8/7 ).

Malah kata dia, pada ponton – ponton yang beroperasi terdapat bendera – bendera, salah satunya milik seseorang yang bernama Ibu Leni.

Dia mengaku tidak mengetahui apakah lokasi penambangan masuk ke wilayah Bangka Induk atau Bangka Barat karena pihak desa tidak mempunyai peta batas kabupaten, tapi yang jelas penambangan itu mengganggu aktivitas para nelayan.

Mirisnya kata Rusli, saat mereka turun ke laut untuk melihat langsung operasional tambang, perahu mereka dihadang preman.

” Jadi karena berkembangnya penambang yang tidak terkendalikan makin hari makin banyak. Kita juga pernah turun ke laut, malahan waktu kita turun kita dihadang oleh para preman – preman situ, sampai perahu kita ditabrak Pak,” katanya.

” Sedangkan yang bekerja itu bukan warga kita tapi orang luar. Kalau warga kita kan karena sekampung mungkin ada perasaan nggak enak sama kawan – kawan nelayan,” sambung dia.

Rusli menegaskan, dirinya pribadi sejak pertemuan di Kantor Gubernur Provinsi Bangka Belitung beberapa waktu lalu bersikeras menolak penambangan di Teluk Kelabat Dalam, yang waktu itu masih beroperasi di seputaran Pulau Punai.

Tapi pada kenyataannya, sampai hari ini penambangan tersebut kata dia malah semakin marak.

” Kita mau berbuat apa kan? Apalagi cuma selaku Kades disitu. Masyarakat mendesak kita terus. Makin lama kita biarkan, mereka itu habis timah baru pergi. Saya mohon tolong kegiatan tambang di Kelabat Dalam itu dihentikan. Jangan di Bangka Barat kita hentikan di Bangka Induk masih jalan terus, nanti akan timbul kecemburuan sosial,” cetus Rusli. ( SK )

No More Posts Available.

No more pages to load.