Terdapat 69 Ribu Masyarakat Bangka Barat dengan Pendapatan Terendah

Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bangka Barat, Suradi di ruang kerjanya, Rabu ( 12/1/2022 ) pagi.

BANGKA BARAT — Masyarakat yang membutuhkan bantuan kesejahteraan sosial di Bangka Barat selama ini sudah dipetakan melalui suatu sistem pendataan yang disebut Data Terpadu Kesejahteraan Sosial ( DTKS ).

Menurut Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bangka Barat, Suradi, data DTKS tersebut digunakan sebagai acuan pemberian bantuan, baik yang bersumber dari APBN, APBD Provinsi maupun Pemkab, termasuk bantuan dari Pemerintah Desa juga mengacu kepada DTKS.

” Secara subtansial masyarakat yang masuk dalam DTKS sudah diidentifikasi terkait keadaan kondisi dan juga jelas by name by adress,” kata Suradi di ruang kerjanya, Rabu ( 12/1/2022 ).

Karena itu jelas dia, masyarakat yang berpendapatan rendah dapat terbantu sehingga bantuan dari pusat seperti PKH, sembako reguler dan lain – lain setiap bulan menyasar kepada masyarakat yang terdata di DTKS.

Juga bantuan dari kabupaten seperti jaminan hidup orang miskin, disabilitas, lansia serta anak terlantar berbasis dari DTKS.

” Jadi sasarannya jelas tepat, memang sudah menjadi sistem untuk penanganan sosial,” imbuhnya.

Menurut dia, sesuai rilis per Oktober 2021, di Bangka Barat terdapat 69.419 masyarakat dengan pendapatan terendah. Hal itu berdasarkan perhitungan himpunan 40 sampai 60 persen pendapatan terendah.

” Artinya 69 ribuan ini adalah kelompok pendapatan masyarakat Bangka Barat yang diambil range 40 persen masyarakat terendah,” ujarnya.

Sehingga dari 40 persen masyarakat dengan pendapatan terendah tersebut menjadi sasaran beberapa bantuan, bukan hanya sembako, juga jenis bantuan lain seperti Penerima Bantuan Iuran ( PBI ) kesehatan BPJS, pendidikan serta bantuan kesejahteraan sosial lainnya.

Suradi menambahkan, dari 206.000 jumlah penduduk Kabupaten Bangka Barat, maka 69.419 tersebut adalah range terbawah. Artinya DTKS menghimpun 40 persen masyarakat berpendapatan terbawah dari jumlah penduduk Bangka Barat.

Namun data DTKS menurut Suradi bersifat dinamis dan fluktuatif, atau dengan kata lain bisa berubah – ubah sesuai perkembangan pertumbuhan perekonomian masyarakat. Angka 40 persen tersebut tentu bisa berkurang apabila perekonomian masyarakat meningkat ke arah yang lebih baik.

” Pandemi Covid membuat berpengaruh kepada masyarakat, seperti tidak ada pekerjaan dan menurunnya penghasilan. Kalau nanti makmur tentu akan berkurang. Jadi ini fluktuatif, dinamis dan berubah – ubah,” tutup Suradi. ( SK )