Dua Tahun Senyap, Masyarakat Antusias Sambut Perang Ketupat

oleh -89 Dilihat
Acara puncak Perang Ketupat di Pantai Pasir Kuning, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat berlangsung meriah, Minggu ( 27/4 ).

BANGKA BARAT — Pantai Pasir Kuning Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat menjadi tempat berlangsungnya acara adat Perang Ketupat tahun 2022 yang digelar hari ini, Minggu ( 27/3 ).

Setelah dua tahun tidak dilaksanakan karena pandemi Covid – 19, tradisi tahunan ini disambut antusias oleh masyarakat setempat, bahkan dari luar Kecamatan Tempilang. Perang Ketupat selalu menjadi daya tarik bagi orang – orang dari luar daerah untuk ikut hadir menyaksikan secara langsung.

Ada beberapa rangkaian acara yang dilaksanakan dalam pesta adat ini, diantaranya Tari Serimbang Kedidi sebagai menu pembuka, dilanjutkan dengan atraksi pencak silat dua pendekar yang saling bertarung atau biasa disebut Tradisi Serambok.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan Tradisi Ngancak, ritual doa, tradisi Perang Ketupat sebagai acara puncak, dan ditutup dengan ritual membuang miniatur sebuah kapal ke laut.

Dalam Perang Ketupat sebagai acara puncak, para peserta saling melempar ketupat kepada lawan – lawannya, sesuai dengan kata ” perang ” yang disematkan pada nama ritualnya.

Bupati Bangka Barat, H. Sukirman yang turut hadir pada pesta adat tersebut mengatakan, Perang Ketupat merupakan salah satu cara untuk mempromosikan wisata budaya dari Bumi Sejiran Setason kepada masyarakat luas.

” Iya, ini selain memperkuat tali silaturahmi, juga kita minta anak – anak muda untuk mengekspose kegiatan ini. Karena perbedaan wisata budaya dengan daerah lain, kita harapkan mereka mau memperkenalkan tradisi ini ke masyarakat luas,” kata Sukirman.

Di lain pihak, Ketua Panitia, Sahanan Ali mengatakan, Perang Ketupat merupakan tradisi untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus menjadi simbol persatuan masyarakat Tempilang.

Hal itu menurut dia dapat dilihat dari kepedulian masyarakat yang dengan kesadaran sendiri ikut berpartisipasi untuk mensukseskan kegiatan ini.

” Tradisi Perang Ketupat adalah bentuk ikatan silaturahmi antar warga, jadi ini harus terus kami lestarikan. Ini ada empat desa sekitar yang kita kumpulkan, tanpa perlu kita komunikasikan mereka berbondong – bondong mensukseskan acara,” ujar Sahanan Ali.

Rasa kegembiraan menyambut acara adat tersebut juga diungkapkan salah seorang warga Tempilang, Iyan Juma ( 32 ). Pria ini sangat antusias hadir di Pantai Pasir Kuning untuk menyaksikan Perang Ketupat dari dekat.

” Oh senang lah datang kesini ke tempat perang pak, terakhir kesini empat tahun lalu. Ini datang sama anak, saya tidak jauh rumahnya dekat sinilah,” ungkapnya. ( SK )